RIWARA.ID - Pasar kripto global kembali diuji. Ketika Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap sejumlah target di Iran pada Sabtu (28/2/2026), gelombang kepanikan segera menyapu aset berisiko tinggi. Dalam hitungan jam, sekitar US$128 miliar atau setara Rp2.153 triliun kapitalisasi pasar aset digital menguap, menurut data CoinGecko.
Bitcoin, yang selama ini kerap disebut sebagai “emas digital”, justru terseret derasnya arus jual. Aset kripto terbesar itu sempat jatuh hingga 3,8% ke US$63.038 (sekitar Rp1,06 miliar dengan asumsi kurs Rp16.824 per dolar AS), sebelum stabil di kisaran US$64.000 pada perdagangan pagi di New York. Ether, token terbesar kedua, bahkan merosot lebih dalam hingga 4,5% ke US$1.836 atau sekitar Rp30,8 juta.
Guncangan ini memperlihatkan kembali satu realitas: dalam situasi geopolitik ekstrem, kripto masih diperlakukan sebagai aset berisiko — bukan pelabuhan aman.
Baca juga: Rokok Tinggalkan Jejak Genetik: Studi Yogyakarta Bongkar Pola Mutasi Kanker Paru yang Berbeda
Ledakan di Teheran dan Efek Domino ke Pasar
Sejumlah ledakan besar dilaporkan terjadi di Teheran hanya beberapa jam sebelum Presiden AS, Donald Trump, mendesak ra kyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan setelah kampanye militer berakhir. Situasi kian memanas ketika Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke berbagai lokasi, termasuk Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, serta mengancam serangan lanjutan terhadap pangkalan yang terkait dengan AS di Irak.
Eskalasi cepat tersebut memicu kepanikan lintas pasar. Di saat bursa saham tradisional belum buka karena akhir pekan, pasar kripto yang beroperasi 24 jam menjadi arena pertama pelampiasan sentimen global.
“Meski risiko pecahnya konflik kembali meningkat seiring penumpukan pasukan AS di Teluk, harapan sebelumnya bertumpu pada negosiasi baru, dan aksi militer yang tegas datang lebih cepat dari perkiraan,” ujar Susannah Streeter, chief investment strategist di Wealth Club, dalam catatan Sabtu.
Ia menambahkan bahwa arus dana kemungkinan akan kembali mengalir ke aset safe haven seperti emas, seiring investor mencari perlindungan di tengah ketidakpastian konflik yang sulit diprediksi.
Baca juga: 99% Tenaga Kesehatan Akui Komunikasi Persalinan Vakum dan Forceps Perlu Dibenahi
Katup Pelepas Tekanan Global
Fenomena ini bukan yang pertama. Setiap kali terjadi peristiwa besar di luar jam perdagangan pasar tradisional, Bitcoin hampir selalu menjadi “katup pelepas tekanan”.
“Seperti biasa, ketika peristiwa penting terjadi pada akhir pekan, Bitcoin berperan sebagai katup pelepas tekanan,” kata Justin d’Anethan, head of research di Arctic Digital.
Namun, menurutnya, dampak kali ini relatif tidak sedrastis yang diperkirakan sebagian pelaku pasar.
“Dengan sebagian besar leverage sudah tersapu dan tekanan jual mulai habis, dampak peristiwa makro menjadi terbatas,” tambahnya. “Bukan berarti Bitcoin tidak bisa turun lebih jauh, tetapi sebagian besar volatilitas telah terlepas.”
Pernyataan itu mengacu pada gelombang likuidasi besar yang telah terjadi beberapa bulan terakhir. Sejak Oktober lalu, sekitar US$19 miliar posisi leverage tersapu dari pasar kripto. Bitcoin sendiri telah anjlok hampir 50% dari rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$126.000 pada awal bulan tersebut.
Artinya, sebagian besar posisi spekulatif berisiko tinggi sudah dibersihkan lebih dulu sebelum krisis geopolitik terbaru ini muncul.
Rp319 Triliun Sudah Terhapus Sebelumnya
Tekanan jual bukanlah hal baru bagi pasar kripto dalam beberapa bulan terakhir. Sejak Oktober, pasar sudah mengalami fase koreksi tajam. Sekitar Rp319 triliun posisi leverage telah terlikuidasi, mencerminkan proses “pembersihan” spekulasi berlebihan.
Namun, fakta bahwa Bitcoin belum mampu mengikuti reli emas dan aset safe haven lainnya menjadi catatan penting.
Emas dalam periode yang sama justru mencetak kenaikan signifikan, mempertegas posisinya sebagai lindung nilai klasik saat risiko geopolitik melonjak. Sebaliknya, Bitcoin menunjukkan korelasi yang lebih dekat dengan saham teknologi — sensitif terhadap sentimen risiko.
Pertanyaan pun kembali mengemuka: apakah Bitcoin benar-benar emas digital, atau sekadar aset spekulatif dengan volatilitas tinggi?
Baca juga: AS dan Israel Gempur Iran, Perang Terbuka Pecah hingga Serangan Balasan Teheran ke Bahrain
Lonjakan Derivatif dan Dominasi Penjual
Reaksi pasar tidak hanya terlihat pada harga spot. Tekanan jual juga melonjak di pasar derivatif Bitcoin.
Dalam satu jam pada Sabtu pagi, volume jual meningkat sekitar US$1,8 miliar, menurut analisis CryptoQuant.
“Ketidakseimbangan seperti ini mencerminkan dominasi penjual yang jelas dan meningkatnya aversi risiko jangka pendek,” tulis analis kripto Sylvain Olive.
Ia menekankan bahwa arus dana saat ini lebih digerakkan oleh emosi dan manajemen risiko ketimbang dinamika fundamental jangka panjang.
“Arus dana lebih didorong oleh emosi dan manajemen risiko dibandingkan dinamika struktural, sehingga membutuhkan pendekatan yang hati-hati,” ujarnya.
Lonjakan volume derivatif menunjukkan bahwa pelaku pasar memilih mengurangi eksposur secara cepat, bahkan dengan risiko kerugian demi menghindari ketidakpastian yang lebih besar.
Baca juga: SIMAK! Ini Cara Mudah Pendaftaran Mudik Gratis Tahun 2026 dari Ditjen Hubdat, Catat Baik-baik
Tokenisasi Komoditas Jadi Pelarian
Menariknya, ketika pasar tradisional tutup, investor kripto justru beralih ke komoditas yang ditokenisasi.
Di bursa terdesentralisasi Hyperliquid, kontrak yang terkait dengan minyak, emas, dan perak melonjak tajam. Hal ini menunjukkan bahwa investor tidak sepenuhnya keluar dari ekosistem kripto, melainkan melakukan rotasi internal menuju aset yang dianggap lebih defensif.
Fenomena ini memperlihatkan evolusi pasar digital. Investor kini tidak hanya memegang Bitcoin atau Ether, tetapi juga menggunaka n platform DeFi untuk berspekulasi atas harga komoditas global secara real time.
Namun, risiko tetap tinggi. Volatilitas ekstrem di tengah konflik bersenjata dapat membuat harga komoditas tokenisasi bergerak liar, tanpa perlindungan regulasi seperti di bursa konvensional.
Baca juga: Terobosan Baru Vitiligo Remaja: Krim 1,5% Ini Tunjukkan Perubahan Nyata dalam 24 Minggu
Ketakutan Lebih Cepat dari Analisis
Dalam situasi krisis, psikologi pasar sering kali bergerak lebih cepat daripada analisis rasional. Informasi tentang ledakan dan rudal menyebar dalam hitungan menit melalui media sosial dan kanal berita global.
Ketika narasi perang menguat, algoritma perdagangan otomatis segera menyesuaikan posisi. Likuidasi berantai pun tak terhindarkan.
Kripto, karena sifatnya yang 24 jam dan tanpa batas negara, menjadi medium pertama yang bereaksi. Tidak ada “circuit breaker” atau penghentian perdagangan seperti di bursa saham.
Akibatnya, fluktuasi bisa terjadi sangat cepat dan sangat dalam.
Baca juga: Wali Kota Solo Ancam Tak Ambil Sampah Warga yang Tak Dipilah
Apakah Ini Awal Koreksi Lebih Dalam?
Meski sebagian analis menilai tekanan terbesar sudah lewat, risiko belum sepenuhnya hilang. Konflik berskala regional yang melibatkan kekuatan besar dapat berdampak sistemik terhadap pasar energi, inflasi global, hingga kebijakan suku bunga.
Jika harga minyak melonjak tajam, tekanan inflasi bisa kembali meningkat, memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan mo neter ketat lebih lama. Kondisi tersebut biasanya tidak bersahabat bagi aset berisiko, termasuk kripto.
Namun, ada juga pandangan berbeda. Beberapa investor jangka panjang melihat koreksi sebagai peluang akumulasi, terutama jika konflik tidak berkembang menjadi perang terbuka berskala global.
Bitcoin di Persimpangan Narasi
Selama bertahun-tahun, komunitas kripto mempromosikan Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian geopolitik dan pelemahan mata uang fiat. Namun, data historis menunjukkan bahwa dalam krisis akut, investor masih cenderung beralih ke emas dan dolar AS.
Peristiwa akhir pekan ini kembali menguji narasi tersebut.
Apakah Bitcoin suatu hari akan benar-benar berfungsi sebagai safe haven? Atau ia akan tetap menjadi aset pertumbuhan dengan volatilitas tinggi?
Jawabannya mungkin terletak pada kedewasaan pasar dan adopsi institusional jangka panjang. Semakin dalam likuiditas dan semakin besar partisipasi investor institusi, volatilitas ekstrem mungkin akan berkurang.
Namun untuk saat ini, Bitcoin tetap berada di persimpangan: antara aset masa depan dan instrumen spekulatif global.
Baca juga: Akankah Ada yang Membeli J-35A? Ambisi Global China dan Tantangan Menyaingi F-35
Volatilitas Adalah Keniscayaan
Serangan militer AS dan Israel terhadap target di Iran menjadi pengingat bahwa pasar keuangan global terhubung erat dengan geopolitik. Dalam dunia yang semakin tidak stabil, aset digital tidak kebal terhadap guncangan.
Rp2.153 triliun nilai pasar yang menguap dalam hitungan jam menunjukkan betapa cepatnya sentimen berubah.
Bagi investor, pelajaran utamanya tetap sama: manajemen risiko adalah kunci. Leverage berlebihan, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik, dapat menjadi bumerang.
Seperti yang diungkapkan analis CryptoQuant, dominasi penjual mencerminkan meningkatnya aversi risiko jangka pendek. Namun volatilitas juga bagian dari DNA kripto.
Di tengah asap konflik dan ketidakpastian global, Bitcoin sekali lagi menunjukkan sifat aslinya: sensitif, reaktif, dan tak terpisahkan dari denyut nadi geopolitik dunia.
Dan selama konflik belum mereda, pasar kripto kemungkinan akan terus bergerak di antara ketakutan dan harapan.*
Rp2.153 triliun nilai kripto lenyap usai serangan AS–Israel ke Iran. Bitcoin anjlok, pasar global dilanda kepanikan.